Ratusan Siswa di Sumba Barat Daya Diduga Keracunan Usai Konsumsi Makanan Tambahan Gratis

  • Bagikan

Lensa Garuda– Suasana mencekam menyelimuti SMP Kristen Waikelo, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa pagi (23/7/2025). Ratusan siswa mendadak mengalami gejala mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan tambahan bergizi gratis yang dibagikan di sekolah.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebanyak 123 siswa dilarikan ke RSUD Pratama Reda Bolo dan Puskesmas Radamata untuk mendapatkan pertolongan medis. Mereka sebelumnya menerima makanan berupa telur rebus, kue bolu, dan susu kemasan yang merupakan bagian dari program makanan tambahan bergizi dari Dinas Kesehatan setempat.

“Kami menerima laporan sekitar pukul 10.00 WITA bahwa sejumlah siswa mengeluh sakit setelah sarapan bersama di sekolah. Langsung kami terjunkan tim medis dan ambulans untuk evakuasi,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya, dr. Stefanus Lalu.

Para siswa mengaku mulai merasakan gejala tidak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut. Salah seorang guru, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa insiden tersebut membuat suasana sekolah panik. “Banyak anak-anak muntah bersamaan, ada yang lemas dan pucat. Kami langsung menghubungi rumah sakit dan pihak berwenang,” ujarnya.

Hingga sore hari, puluhan siswa masih dalam perawatan dan observasi medis. Beberapa di antaranya telah diperbolehkan pulang, namun tetap diminta untuk melapor jika muncul gejala lanjutan.

Sementara itu, pihak kepolisian telah mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium guna memastikan penyebab pasti dari dugaan keracunan massal ini. Kapolres Sumba Barat Daya, AKBP Sigit Harimbawan, menyatakan bahwa pihaknya akan mengusut tuntas kasus ini.

“Ini menyangkut keselamatan anak-anak, jadi kami sangat serius. Sampel makanan sudah kami amankan dan akan diuji. Kami juga akan memeriksa pihak penyedia makanan,” tegasnya.

Program makanan tambahan ini sejatinya bertujuan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan siswa di wilayah terpencil. Namun, insiden ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan orang tua siswa terhadap standar kebersihan dan keamanan makanan yang disalurkan.

Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya diminta untuk segera mengevaluasi pelaksanaan program serupa dan memastikan kualitas makanan yang dibagikan sesuai standar kesehatan. ***

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *